Friday, 27 February 2009

Aya dan Sheila...


Wah akhirnya si Sheila yg ditunggu2 datang juga tadi siang diantar oleh seorang kurir yg sempet2nya curhat colongan.. "haduh buu.. jauh bgt sih rumahnya..." trus kata si Ateu kurir itu sampe salah masuk rumah, masa yg diketuk pagar kita eeh masuknya malah ke pagar rumah sebelah. Wgegegege... stress tu kurir kayanya :D

Begitu Aya ngelihat bungkusan besar dia udah tampak ga sabar aja pingin ngebuka tapi berhubung bungkusannya di lapis pke plastik jadi aga kesusahan dia ngebukanya. Akhirnya bunda yg buka dan begitu si Aya ngeliat isinya.... Aga2 heran dia ngeliat boneka berbentuk bayi, karena boneka2 yg aya punya bentuknya  hewan2an semua.  Lucunya, si Sheila bukannya di gendong tapi di jinjing trus diajak bobo siang deh...

Awalnya mah saya mampir ke tokonya mba Putri bukan mau niat beli Sheila tapi mau tanya2 soal kamera yg dijual soalnya harganya udah cocok kirain digital ga taunya SLR. Eh dasar aja jodohnya ma Sheila jadi deh yg kebeli malah Sheilanya..

Semoga motorik halusnya Aya makin terasah dengan bisa mengancingkan kantongnya Sheila ato mengikat tali sepatunya Sheila walo skarang2 masih lebih seneng menjinjing2 si Sheila.. trus dharapkan juga bisa memancing sisi kasih sayangnya Aya ke mahluk yg lebih kecil ato ke si adek bayi.. Kaya yg mau dikasi adek beneran ajah. Heuheuheu...

Buat mba Putri thx ya bonus jepit rambutnya... :)

Sunday, 22 February 2009

(Ga jadi) bingung.. :D

Saya ni seringkali suka mikir kalo melihat tingkah laku anak-anak....

Ada anak yg hobi melempar2 barang dan sedikit kasar... sebenernya bagaimana pola pendidikan yg diterapkan orangtuanya..?

Ada anak yg sensitif sekali.. sedikit2 dari mulutnya keluar kata-kata "kamu nakal.., kamu susah diatur..." kalo seperti bagaimana juga pola pendidikan yg di terapkan orangtuanya..?

Ada anak yang kalem, manut, patuh sama orangtuanya, ini saya salud sekali tp saya jg bingung bagaimana pola pendidikan yg diterapkan orangtuanya..?

Ada yg bisa kasih saya link seputar ilmu psikologi untuk anak..? ato share pengalaman pribadi..? 

Hatur nuhun..

-------------------------------------------------

Akhirnya nemu good articles..!!

MIRACLES AT HOME
Ditulis pada 11 Januari 2009 oleh parentingislami

Rumahku adalah syurgaku….Rasanya selama beberapa tahun aku tak mengerti bagaimana sebuah rumah itu merupakan syurga yang tenang, damai dan menyenangkan. Setiap pulang lelah bekerja seharian ataupun sehari semalam, rasanya sumpek dan memusingkan. Suara teriakan anakku yang pertama diikuti oleh tangisan anakku yang kedua merupakan hiasan hari-hariku. Hari-hariku bertambah ramai dengan teriakan pembantuku yang panik melihat anak keduaku dipukul, dicubit atau dibenturkan oleh anak pertamaku. Sepertinya, setiap pulang ke rumah, kepalaku bertambah pusing.

Ketika kebisingan itu terjadi, karakterku yang keras dari kecil bergabung dengan ketegasan yang katanya harus dimiliki oleh orang tua berbentuk teriakan-teriakan larangan untuk anakku yang sangat kusayang. Kupegang tangannya dengan keras, dan kukatakan : “Kakak kenapa jahat sama Adik? Tidak boleh memukul adik. Sini, tangan jeleknya biar Ummi Cubit.” . Anak pertamaku diam memojok beberapa waktu, setelah itu keluar lagi bermain. Esok harinya, sepertinya dia tidak mendengarkan atau pun mengerti peringatanku kemarin. Kuingatkan lagi dengan cara yang hampir kurang lebih sama, dan kejadian yang sama pun berulang. Anakku pertamaku sekarang berusia 5,5 tahun, anak kedua berusia 2,5 tahun. Aku merasa saatnya aku harus mencari tahu cara pengasuhan anak yang seharusnya. Anak pertamaku sebentar lagi akan masuk SD. Aku takut, dia akan mengalami kesulitan karena sifatnya yang keras, tidak mau berbagi, suka melakukan kekerasan bila keinginannya tidak terpenuhi, tidak suka belajar. Aku harus mencari cara. Masih ada waktu 6 bulan lebih untuk aku mencari tahu dan memperbaiki semua ini.

Enam bulan. Kemana aku 5,5 tahun kemarin? Aku seorang dokter sekarang. 6,5 tahun yang lalu, aku menikah sambil melaksanakan koasistensi di sebuah rumah sakit. Semua orang yang tahu tentang alur pendidikan dokter akan paham betapa sibuknya kuliah di kedokteran. Sangat sedikit waktuku untuk bertemu dengan anakku, karena waktuku di rumah disita rasa lelah karena rantaian jaga malam dan kuliah yang harus kujalani. Anakku akrab dengan pembantuku. Aku hanya memegangnya sebentar untuk menyusui. Kalau sempat, aku membantu mengganti popok, menyuapi, memandikan, atau mengajaknya jalan-jalan. Rasanya lelah sekali. Anakku ini rewel sekali. Jika menangis bisa 2 sampai 4 jam baru berhenti menangis.

Setelah wisuda, aku terbebas dari rantaian kuliah, tapi mulai aku terbawa oleh jam kerja yang padat. Aku hamil anak kedua, dan aku harus bisa menabung untuk kelahiran anak keduaku. Rasanya pembagian waktuku mirip ketika aku kuliah.

Setelah kelahiran anak keduaku, aku sibuk dengan tugasku sebagai dokter PTT dengan gaji yang kecil. Aku jadi harus mencari banyak tambahan diluar, dan pembagian waktukupun sama seperti aku kuliah. Hal ini bertambah parah ketika aku ingin mempunyai rumah dan mulai membangun rumah di usia anakku 5 tahun. Aku harus berjuang amat sangat keras, tak ada yang bisa kuandalkan untuk mencari dana membangun rumah. Aku sering emosi ketika pulang ke rumah. Anak-anakku sering hanya mendapat wajah murungku, tak sempat aku bercanda dengan mereka, karena hatiku rasanya tertekan. Aku susah untuk tersenyum.

Dua bulan yang lalu, aku tiba-tiba merasa, aku sangat lelah. Aku lelah dengan pekerjaan yang tiada akhir, yang jadualnya kubuat sendiri. Tak ada yang memaksa. Aku lelah melihat dan mendengar suara teriakan anakku, dan tangisan adiknya. Aku merasa stress. Berat badanku menurun.

Adik-adikku sempat bermain ke rumah membawa buku Nanny 911. Aku tak membaca buku itu. Tapi aku jadi teringat aku sempat menonton acara itu sekitar dua kali. Di acara itu diperlihatkan, bagaimana seorang Nanny membantu sebuah keluarga untuk membantu mengarahkan anak-anaknya dari perilaku negatif menjadi anak-anak yang baik dan kooperatif sehingga mereka menjadi keluarga bahagia. Aku berpikir, aku ingin mempelajari bagaimana caranya, dan aku akan menjadi Nanny di rumahku sendiri.

Tak berapa lama, doaku terkabul. Aku berkenalan dengan seorang trainer pengasuhan anak lewat seorang teman. Aku bersilaturahmi ke rumahnya bersama suami dengan membawa anak pertamaku. Ketika masuk ke rumahnya, kami saling bertegur sapa dan berkenalan. Aku malu sekali kepada beliau karena anakku tidak mau bersalaman. Anakku malah sembunyi di belakangku. Aku jelaskan pada beliau. “Pak, maaf. Anak saya ini memang pemalu.” Setelah itu, beliau memberikan ilmu pengasuhan pertama seumur hidupku bahwa persepsi negatif yaitu pemalu yang kusampaikan akan direkam dalam pikiran anak dan akan membentuk anak sesuai persepsi itu. Jika aku ingin mempunyai akan yang pemberani dan mau bersalaman, katakan pada anak itu bahwa dia berani dan bisa bersalaman dengan siapapun. Persepsi positif berupa keberanian akan membuat dia berani.

Aku pulang dengan membawa satu ilmu yang ingin sekali kupraktekkan. Akhirnya aku praktekkan. Aku bilang bahwa anakku pemberani dan pintar bersalaman dengan teman umminya. Ketika kuajak ke rumah teman, dia pun bersalaman. Kukatakan padanya bahwa senyumnya manis sekali, dan orang akan senang kalau dia salami sambil tersenyum, dan dia pun melakukan hal tersebut. Kukatakan padanya bahwa dia pintar makan, dia jadi lebih bersemangat makan. Kukatakan padanya apa yang kumau, dan dia seperti disulap menjadi apa yang kuinginkan.

Keajaiban yang indah. Aku jadi ingin tahu lebih banyak teknik pengasuhan anak. Aku ingin membuat anakku suka belajar, mau shalat, mau berbagi dengan adiknya, mau mandi tanpa dipaksa, tidak lagi memukul adiknya. Aku mau anak yang sholeh.

bersambung….


Zulaehah Hidayati,

dokter dan ibu dari dua orang anak

http://parentingislami.wordpress.com

MIRACLES AT HOME (part 2 - tamat)
Ditulis pada 19 Januari 2009 oleh parentingislami

Akhirnya aku mengikuti undangan trainer itu untuk mengikuti pelatihannya selama dua hari penuh di akhir tahun 2008 ini. Subhaanallah. Aku jadi sangat termotivasi dan terinspirasi untuk melakukan pengasuhan anak dengan teknik yang benar. Tips nya pun begitu lengkap. Tips untuk memahami bahwa anak itu anugerah yang paling indah. Anugrah yang seharusnya kita syukuri dan selalu kita ingat. Yang membuat kita berpikir untuk mendidiknya dengan benar dan tak akan menyakitinya dengan kata-kata apalagi fisik. Aku jadi tak ingin lagi marah, membentak , apalagi mencubit.

Selain itu, aku jadi tahu tentang betapa cerdasnya anak-anak. Mereka dianugrahi keinginan belajar yang sangat besar. Aku harus bisa sabar menemani mereka mengacak-acak rumahku sebagai media belajar. Aku harus bisa mengarahkan mereka untuk belajar dengan menyenangkan agar mereka menjadi anak-anak yang cerdas. Persepsi positif mereka harus selalu diulang-ulang terus untuk membuat mereka semakin melejitkan potensi positif mereka. Di sisi lain, kebiasaanku terbiasa dengan cara pengasuhan lama harus kupendam dalam-dalam. Aku tak boleh mengatakan jangan nakal, jangan malas, jangan suka menyakiti adik, jangan galak, jangan suka mencubit. Benar-benar perlu keteguhan hati.

Hal yang sering kita lupakan juga, ternyata aku harus belajar mendengarkan anak. Jika menangis, marah, atau menginginkan sesuatu, kita harus mendengarkan dulu apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan. Setelah itu barulah kita kita berikan persepsi positif kita pada mereka. Jika kita tidak suka mendengarkan anak, maka anak akan merasa tidak berharga. Rasa tidak berharga akan membuat anak mencari harga diri mereka di luar rumah. Di lingkungan yang tidak kita inginkan. Akan tetapi, jika mereka merasa berharga di rumah, aku yakin, mereka akan nyaman bersama aku dan suamiku, dan tak akan tergoda pada lingkungan yang buruk di masa depan nanti.

Ternyata, untuk mempunyai suasana rumah yang menyenangkan, kita juga harus memiliki aturan. Aturan-aturan yang baik itu harus tetap konsisten kita tetapkan. Jika kita melarang jajan, maka larangan itu harus tetap kita patuhi walaupun anak akan meraung-raung dan bergulingan di pinggir jalan. Karena jika tidak konsisten, maka anak akan belajar tentang berbohong, tidak menepati kata-kata, dan mengulang hal yang sama di kemudian hari. Anak-anak yang dengan bijak kita dengarkan keinginannya kemudian kita arahkan dengan persepsi positif ternyata bisa kita jauhkan dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk, misalnya jajan, memukul adik, memukul teman, pelit, dan banyak hal yang lain.

Aku pulang dan mulai mempraktekkan tips-tips dalam pelatihan. Aku melihat bagaimana mata anakku berbinar ketika aku mendengarkan curhatnya setelah marah dan memukul adiknya. Aku kemudian menceritakan sakitnya bila dipukul. Dan akhirnya dia memutuskan untuk meminta maaf karena telah menyakiti adiknya. Sebelumnya, anakku tidak pernah mau meminta maaf.

Selain itu, sekarang aku membiasakan shalat berjamaah. Setelah shalat berjamaah, aku dudukkan anakku di pangkuanku dan aku berdoa dekat telinganya. Kukatakan dengan jelas dekat bahwa aku bersyukur mendapat seorang anak yang sholeh, yang sayang sama adik, pintar makan, suka belajar, dan hal lain yang kuinginkan darinya.

Setiap ada kesulitan anak-anakku tidak mau melakukan rutinitas, aku tidak marah-marah. Aku sudah punya banyak cara di kepalaku yang akan membuatnya melakukan apa yang seharusnya dengan senang, tanpa perasaan terpaksa. Aku sekarang sudah menjadi Nanny untuk keluargaku.

Hanya dalam dua hari, suasana rumahku berubah. Pembantuku senang karena dia tidak kerepotan lagi oleh kedua anak. Aku bahagia, karena sekarang aku benar punya syurga tempat aku melepaskan lelahku dan mendapatkan kebahagian. Aku selalu ingin pulang dan menyempatkan untuk bermain sambil memberikan persepsi-persepsi positif. Aku merasakan kebahagiaan karena mempunyai anak-anak yang sholeh. Dan ternyata anak sholeh itu akan dimiliki oleh orang tua yang sholeh, yang memahami cara pengasuhan anak.

Ini adalah kisah nyata yang aku alami. Semoga semua orang tua di dunia dapat mengambil hikmahnya dengan meluruskan cara pengasuhan anaknya.
Zulaehah Hidayati,

dokter dan ibu dari dua orang anak

http://parentingislami.wordpress.com

Thursday, 19 February 2009

Tinggal sama mertua..? Enakk gilaa..!!

Udah beberapa temen ni yg nanyain ke saya ko betah sih tinggal bareng mertua.. suka konflik ga..? ato apalah...

Kaya contohnya  waktu aya baru lahir, dari masalah bedong, gurita, bedak, minyak telon, puser puput trus dikasi koin.. kami (saya dan si ayah) sama oma beda bgt ni maunya.. kl saya semua itu ga perlu tapi bukan berarti juga saya ga nurutin maunya si Oma, yah maklum lah saya kan cari informasinya di internet udah beda jaman sama si Oma jadi yg di cari ya jalan tengahnya aja. Dan terus terang nii saya paling belibet makein aya guritaa.. duh tu tali2nya sering salah ngiket.. bedong juga gitu.. pokonya bodohlah saya ini..

Akhirnya jalan tengah yg kita ambil setelah puser aya puput.. kita sudahi juga pemakain bedong dan gurita sambil kasi penjelasan juga ke Oma tapi bukan penjelasan ilmiah cukup dengan bilang.. kata bu bidan pke bedong sama gurita ga perlu ko Mih dan bagian yg ngomong ya si Ayaah donk.. :D

Selesai ni... trus masuk lah ke MPASI, oya si Oma pro ASI lohh.. jadi slama ASIX lancar jayaaa.. sukses..!!

Oma sempet bingung dengan model MPASI-nya Aya yg beda dengan MPASI cucunya yg lain. Ko makannya gitu..? Ko ga di tim..? Ko ga dicampur2..? Ko ga dikasih garem..? Ko aya ga pernah di kasih biskuit..? Whehehehe....

Saya mah ringkes aja jawabnya... masa2 MPASI kan masanya pengenalan Mih..jadi dikenalin makanannya ya satu2 dan dipisah2... ga dikasi garem.., lagian ga pke garem aja aya juga doyan kok.. :D ga dikasih biskuit.. kuatir aya ga doyan sayur2an kukus lagi Mih.. dan si Oma pun terdiam.. kekekeke...

Hasilnya pun terlihat deh sekarang.. aya hobi makan sayuran dan suka ngelempar2 biskuit. Hahahaha...

Untuk komunikasi.. duh ini mah udah dari dulu deh saya bloon.. apalagi kl si Oma udah nyerocos cerita campur2 pke bahasa sunda bahasa indonesia, bahasa indonesia bahasa sunda dijamin saya mah he eh he eh aja.. kl ada si ayah lebih lucu lagi, kl oma cerita trus saya ketawa si ayah nanya (ato ngetes)... mamih cerita apa Ra..? gw jawab aja ga tauuu... udah biasa tu dia ngakak kl gw sok pinter di depan emaknya =))

Buat saya mah, saya musti bersyukur bgt tinggal di rumah yg layak walo bukan di rumah sendiri... mungkin kl ga tinggal sama si Oma saya ga bisa ni ngetik2 ngenetan yg ada saya lagi sibuk masak, beberes, nyuci, yg kerjaan tu ga ada habis2nya.. kl skarang mau makan tinggal ke ruang makan, kadang2 nyuci piring, kadang2 ga.. ini mah kuwalat gw..

Yah pokonya gitu lah.. perbedaan pendapat selalu ada dan pasti akan ada tapi tergantung gmana kita mencari solusinya tanpa harus saling menyakiti...

Untung si Oma ga doyan ngenet, kl baca ge er doi :))

Jalan-jalan pagi...

Kebiasaannya aya setiap pagi selalu bukain pintu pagar buat Ayah... Sebelumnya salam dulu trus baru deh da da da da... Biasanya kl motor Ayah udah ga keliatan si aya langsung ngomong.. "ga ah ga ahh.." mungkin maksudnya jgn pergi ayaah... Hehehe...

Sebelum nutup pintu pagar aya main-main dulu sebentar di luar rumah. Untungnya sepi ga banyak kendaraan lalu lalang jadi santai aja dia jalan-jalan sendiri sambil menikmati hangatnya sinar mentari..

Yang paling atas itu lapangan golf.. aya punya beberapa bola golf yg nyasar masuk ke rumah. Malah ada lohh tetangga di atas yg dapet bola golf sekresek.. trus bibinya (PRT) pernah benjol gede kena bola golf untungnya mereka bertanggung jawab ngobatin si bibi.. Hihihihi...

Wednesday, 18 February 2009

ANAK-ANAK KARBITAN

Rating:★★★★
Category:Other
ANAK-ANAK KARBITAN
Oleh Dewi Utama Faizah*)

*) Dewi Utama Faizah, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen
Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan
Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Anak-anak yang digegas
Menjadi cepat mekar
Cepat matang
Cepat layu...

Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana
mana orangtua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga
persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak
mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri
dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa. Kursus-kursus kilat untuk
anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan
rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas
dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat
dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia
pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh
tawaran yang menggiurkan yang terkadang menguras isi kantung orangtua
...

Captive market I
Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita
amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di intenet dan
lileratur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak
usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar
penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan.
Disamping ketidakpatutan yang dilakukan oleh orang tua akibat
ketidaktahuannya!

Anak-Anak Yang Digegas...
Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidakpatutan terhadap
anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan
intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan
kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani
akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan
kecakapan-kecakapan akademik dl dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini
terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi
pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang
psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard
College walaupun usianya masih 11tahun. Kecerdasannya di bidang
matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak
jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian ?
James Thurber seorang wartawan terkemuka. pada suatu hari menemukan
seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si
anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak
kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi
pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952,
dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan
eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan
kognitif anaknya sejak si anak masih benapa janin. Baru saja bayi itu
lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang
bayi. Kemudian diajak berbicara dengan menggunakan bahasa orang dewasa.
Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata
baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat
berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah
menyelesaikan membaca ensiklopedi Britannica. Usia 6 tahun ia membaca
enam buah buku dan Koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun
dia masuk universitas. Ketika usianya menginjak 15 lahun la
menjadi guru matematika di Michigan State University . Aaron Stem berhasil menjadikan
Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak
berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi
ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi
anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia
menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang
berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil
mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai
murid yang dungu. Seperti halnya Einsten yang mengalami kesulitan
belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka
melamun. Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa
keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kogtutif.
Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga.
Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan
"Early Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa
keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan
anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super (Superkids). Kurikulum pun dikemas
dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang mengfungsikan belahan otak
kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10%
saja. Ketidakseimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam
proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang
dimana-mana, di Indonesia... .

"Early Ripe, early Rot...!"
Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1960 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya
pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Orangtua merasa apabila mereka tidak segera mengajarkan anak-anak mereka berhitung, membaca dan menulis sejak dini maka mereka akan kehilangan "peluang emas" bagi anak-anak mereka selanjutnya. Mereka memasukkan anak-anak mereka
sesegera mungkin ke Taman Kanak¬Kanak (Pra Sekolah). Taman Kanak-kanak pun dengan senang hati menerima anak-anak yang masih berusia di bawah usia
4 tahun. Kepada anak-anak ini gurunya membelajarkan membaca dan berhitung secara formal sebagai pemula.

Terjadinya kemajuan radikal dalam pendidikan usia dini di Amerika sudah
dirasakan saat Rusia meluncurkan Sputnik pada tahun 1957. Mulailah "Era Headstart" merancah dunia pendidikan. Para akademisi begitu optimis
untuk membelajarkan wins dan matematika kepada anak sebanyak dan sebisa mereka (tiada berhingga). Sementara mereka tidak tahu banyak tentang
anak, apa yang mereka butuhkan dan inginkan sebagai anak. Puncak keoptimisan era Headstart diakhiri dengan pernyataan Jerome Bruner,
seorang psikolog dari Harvard University yang menulis sebuah buku terkenal " The Process of Education" pada lahun 1960, la menyatakan
bahwa kompetensi anak untuk belajar sangat tidak berhingga. Inilah buku suci pendidikan yang mereformasi kurikulum pendidikan di Amerika. "We
begin with the hypothesis that any subject can be taught effectively in some intellectually honest way to any child at any stage of development" .
Inilah kalimat yang merupakan hipotesis Bruner yang di salah artikan oleh banyak pendidik, yang akhirnya menjadi bencana! Pendidikan dilaksanakan
dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk...

early ripe, early rot!
Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu
mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca. Bencana
berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep "kesiapan-readiness " dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang
mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang "biological limitations on learning'. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan
intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.

Tekanan
yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-¬anak menjadi cepat mekar. Anak-anak menjadi "miniature
orang dewasa ". Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang
dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Di sisi lain media pun merangsang anak untuk cepat mekar terkait dengan musik, buku, film,
televisi, dan internet. Lihatlah maraknya program teve yang belum pantas ditonton anak-anak yang ditayangkan di pagi atau pun sore hari. Media
begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa sebagai seksual promosi yang menyesatkan. Pendek kata media telah
memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak lumbuh kembang secara cepat.

Tapi apakah kita tahu bagaimana tentang emosi dan perasaan anak? Apakah faktor emosi dan perasaan juga dapat digegas untuk dimekarkan seperti
halnya kecerdasan? Perasaan dan emosi ternyata memiliki waktu dan ritmenya sendiri yang tidak dapat digegas atau dikarbit. Bisa saja anak
terlihat berpenampilan sebagai layaknya orang dewasa, tetapi perasaan mereka tidak seperti orang dewasa. Anak-anak memang terlihat tumbuh
cepat di berbagai hal tetapi tidak di semua hal. Tumbuh mekarnya emosi sangat berbeda dengan tumbuh mekarnya kecerdasan (intelektual) anak.
Oleh karena perkembangan emosi lebih rumit dan sukar, terkait dengan berbagai keadaan, Cobalah perhatikan, khususnva saat perilaku anak
menampilkan gaya "kedewasaan ", sementara perasaannya menangis berteriak sebagai "anak".

Seperti sebuah lagu popular yang pernah dinyanyikan suara emas seorang anak laki-laki "Heintje" di era tahun 70-an... :
I'm Nobody'S Child
I'M NOBODY'S CHILD
I'M nobody's child I'm nobodys child
Just like a flower I'm growing wild
No mommies kisses
and no daddy's smile
Nobody's touch me I'm nobody's child

Dampak Berikutnya Terjadi... ketika anak memasuki usia remaja.
Akibat negatif lainnya dari anak-anak karbitan terlihat ketika ia memasuki usia remaja. Mereka tidak segan-segan mempertontonkan berbagai macam perilaku
yang tidak patut. Patricia 0' Brien menamakannya sebagai "The Shrinking of Childhood'.

"Lu belum tahu ya... bahwa gue telah melakukan segalanya", begitu pengakuan seorang remaja pria berusia 12 tahun kepada teman temannya.
"Gue tahu apa itu minuman keras, drug, dan seks " serunya bangga.

Berbagai kasus yang terjadi pada anak-anak karbitan memperlihatkan
bagaimana pengaruh tekanan dini pada anak akan menyebabkan berbagai
gangguan kepribadian dan emosi pada anak. Oleh karena ketika semua
menjadi cepat mekar.... kebutuhan emosi dan sosial anak jadi tak
dipedulikan! Sementara anak sendiri membutuhkan waktu untuk tumbuh,
untuk belajar dan untuk berkembang, .... sebuah proses dalam
kehidupannya !

Saat ini terlihat kecenderungan keluarga muda lapisan menengah ke atas yang berkarier di luar rumah tidak memiliki waktu banyak dengan
anak-anak mereka. Atau pun jika si ibu berkarier di dalam rumah, ia lebih mengandalkan tenaga "baby sitter" sebagai pengasuh anak-anaknya. Colette Dowling menamakan ibu-ibu muda kelompok ini sebagai "Cinderella Syndrome" yang senang window shopping, ikut arisan, ke salon memanjakan diri, atau menonton telenovela atau buku romantis. Sebagai bentuk ilusi rnenghindari kehidupan nyata vang mereka jalani. Kelompok ini akan
sangat bangga jika anak-anak mereka bersekolah di lembaga pendidikan yang mahal, ikut berbagai kegiatan kurikuler, ikut berbagai Ies, dan mengikuti berbagai
arena, seperti lomba penyanyi cilik, lomba model ini dan itu. Para orangtua ini juga sangat bangga jika anak-anak mereka superior di segala
bidang, bukan hanya di sekolah. Sementara orangtua yang sibuk juga mewakilkan diri mereka kepada babysitter terhadap pengasuhan dan
pendidikan anak¬-anak mereka. Tidak jarang para baby sitter ini mengikuti pendidikan parenting di Iembaga pendidikan eksekutif sebagai
wakil dari orang tua.

ERA SUPERKIDS
Kecenderungan orangtua menjadikan anaknya "be special " daripada "be average or normal sernakin marak terlihat. Orangtua sangat ingin
anak-anak mereka menjadi "to exel to be the best". Sebetulnya tidak ada yang salah. Namun ketika anak-anak mereka digegas untuk mulai mengikuti
berbagai kepentingan orangtua untuk menyuruh anak mereka mengikuti beragam kegiatan, seperti kegiatan mental aritmatik, sempoa, renang,
basket, balet, tari ball, piano, biola, melukis, dan banyak lagi lainnya...maka lahirlah anak-anak super---"SUPERKIDS' ". Cost merawat
anak superkids ini sangat mahal.

Era Superkids berorientasi kepada "Competent Child". Orangtua saling berkompetisi dalam mendidik anak karena mereka percaya "earlier is
better". Semakin dini dan cepat dalam menginvestasikan beragam pengetahuan ke dalam diri anak mereka, maka itu akan semakin baik. Neil
Posmant seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an meramalkan bahwa jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah...ketika
anak-anak itu menjadi dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan!

BERBAGAI GAYA ORANGTUA
Kondisi ketidakpatutan dalam memperIakukan anak ini telah melahirkan berbagai gaya orangtua (Parenting Style) yang melakukan
kesalahan "miseducation" terhadap pengasuhan pendidikan anak-anaknya. Elkind (1989) mengelompokkan berbagai gaya orangtua dalam pengasuhan,
antara lain:

Gourmet Parents-- (ORTU B0RJU)
Mereka adalah kelompok pasangan muda yang sukses. Memiliki rumah bagus,
mobil mewah, liburan ke tempat-tempat yang eksotis di dunia, dengan gaya
hidup kebarat-baratan. Apabila menjadi orangtua maka mereka akan
cenderung merawat anak-anaknya seperti halnya merawat karier dan harta
mereka. Penuh dengan ambisi! Berbagai macam buku akan dibaca karena
ingin tahu isu-isu mutakhir tentang cara mengasuh anak. Mereka sangat
percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun
karier, maka "superkids" merupakan bukti dari kehebatan mereka sebagai
orangtua.

Orangtua kelompok ini memakaikan anak-anaknva baju-baju mahal bermerek
terkenal, memasukkannya ke dalam program-program eksklusif yang
prestisius. Keluar masuk restoran mahal. Usia 3 tahun anak-anak mereka
sudah diajak tamasya keliling dunia mendampingi orangtuanya. Jika suatu
saat kita melihat sebuah sekolah yang halaman parkirnya dipenuhi oleh
berbagai merek mobil terkenal, maka itulah sekolah dimana banyak
kelompok orangtua "gourmet " atau kelompok borju menyekolahkan
anak-anaknya.

College Degree Parents --- (ORTU INTELEK)
Kelompok ini merupakan bentuk lain dari keluarga intelek yang menengah
ke atas. Mereka sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Sering
melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misalnya
membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekstra kurikuler lainnya.
Mereka percaya pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan
hidup. Terkadang mereka juga tergiur menjadikan anak-anak mereka
"Superkids". Apabila si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang
tinggi. Terkadang mereka juga memasukkan anak-anaknya ke sekolah
mahal yang prestisius sebagai bukti bahwa mereka mampu dan percaya bahwa
pendidikan yang baik tentu juga harus dibayar dengan pantas. Kelebihan
kelompok ini adalah sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang
dilaksanakan di sekolah anak anaknya. Dan dalam banyak hal mereka banyak
membantu dan peduli dengan kondisi sekolah,

Gold Medal Parents --(ORTU SELEBRITIS)
Kelompok ini adalah kelompok orangtua yang menginginkan anak-anaknya
menjadi kompetitor dalam berbagai gelanggang. Mereka sering mengikutkan
anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Ada gelanggang ilmu
pengetahuan seperti Olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini
lagi marak di Indonesia . Ada juga gelanggang seni seperti ikut
menyanyi, kontes menari, terkadang kontes kecantikan. Berbagai cara akan
mereka tempuh agar anak-anaknya dapat meraih kemenangan dan menjadi
"seorang Bintang Sejati ". Sejak dini mereka persiapkan anak-anak
mereka menjadi "Sang Juara", mulai dari juara renang, menyanyi dan melukis
hingga none abang cilik kelika anak-anak mereka masih berusia TK.
Sebagai ilustrasi dalam sebuah arena lomba ratu cilik di Padang ..
Puluhan anak-anak TK baik laki-laki maupun perempuan tengah menunggu di
mulainya lomba pakaian adat. Ruangan yang sesak, penuh asap rokok, dan
acara yang molor menunggu datangnya tokoh anak dari Jakarta . Anak-anak
mulai resah, berkeringat, mata memerah karena keringat melelehi mascara
mata kecil mereka. Para orangtua masih bersemangat, membujuk
anak-anaknya bersabar. Mengharapkan acara segera dimulai dan anaknya
akan keluar sebagai pemenang. Sementara pihak penyelenggara mengusir
panas dengan berkipas kertas.

Banyak kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi
kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang
gadis kecil pesenam usia TK rnengalami kelainan tulang
akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga. Atau kasus "bintang cilik" Yoan Tanamal yang
mengalami tekanan hidup dari dunia glamour masa kanak-kanaknya. Kemudian
menjadikannya pengguna dan pengedar narkoba hingga menjadi penghuni
penjara. Atau bintang cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya
menjadi pasien dokter jiwa. Gold medal parent menimbulkan banyak bencana
pada anak-anak mereka!

Pada tanggal 26 Mei lalu kita sasikan di TV bagaimana bintang cilik
"Joshua" yang bintangnya mulai meredup dan mengkhawatirkan orangtuanya.
Orangtua Joshua berambisi untuk kembali menjadikan anaknya seorang
bintang dengan kembali menggelar konser tunggal. Sebagian dari kita
tentu masih ingat bagaimana lucu dan pintarnya. Joshua ketika berumur
kurang 3 tahun. Dia muncul di TV sebagai anak ajaib karena dapat
menghapal puluhan nama-nama kepala negara. Kemudian di usia balitanya
dia menjadi penyanyi cilik terkenal. Kita kagum bagaimana seorang bapak
yang tamatan SMU dan bekerja di salon dapat membentuk dan menjadikan
anaknya seorang "superkid "--seorang penyanyi sekaligus seorang bintang
film,....

Do-it Yourself Parents
Merupakan kelompok orangtua yang mengasuh anak-anaknya secara alami dan
menyatu dengan semesta. Mereka sering menjadi pelayanan professional di
bidang sosial dan kesehatan, sebagai pekerja sosial di sekolah, di
tempat ibadah., di Posyandu dan di perpustakaan. Kelompok ini
menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang tidak begitu mahal dan
sesuai dengan keuangan mereka. Walaupun begitu kelompok ini juga bemimpi
untuk menjadikan anak-anaknya "Superkids"- -earlier is better". Dalam
kehidupan sehari-hari anak-anak mereka diajak mencintai lingkungannya.
Mereka juga mengajarkan merawat dan memelihara hewan atau tumbuhan yang
mereka sukai. Kelompok ini merupakan kelompok penyayang binatang dan
mencintai lingkungan hidup yang bersih.

Outward Bound Parents--- (ORTU PARANOID)
Untuk orangtua kelompok ini mereka memprioritaskan pendidikan yang dapat
memberi kenyamanan dan keselamatan kepada anak-anaknya. Tujuan mereka
sederhana, agar anak-anak dapat bertahan di dunia yang penuh dengan
permusuhan. Dunia di luar keluarga mereka dianggap penuh dengan
marabahaya. Jika mereka menyekolahkan anak-anaknya maka mereka Iebih
memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran
yang berbahaya. Seperti halnya Do It Yourself Parents, kelompok ini
secara tak disengaja juga terkadang terpengaruh dan menerima konsep
"Superkids " Mereka mengharapkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang
hebat agar dapat melindungi diri mereka dari berbagai macam marabahaya. Terkadang
mereka melatih kecakapan melindungi diri dari bahaya, seperti memasukkan
anak-anaknya "Karate, Yudo, pencak Silat" sejak dini.
Ketidakpatutan pemikiran kelompok ini dalam mendidik anak-anaknya adalah bahwa mereka terlalu berlebihan melihat marabahaya di luar rumah tangga mereka, mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan
membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi
"steril" dengan lingkungannya.

Prodigy Parents --(ORTU INSTANT)
Merupakan kelompok orangtua yang sukses dalam karier namun tidak
memiliki pendidikan yang cukup. Mereka cukup berada, namun tidak berpendidikan yang baik. Mereka memandang kesuksesan mereka di dunia bisnis merupakan bakat semata. Oleh karena itu mereka juga memandang sekolah dengan sebelah mata, hanya sebagai kekuatan yang akan menumpulkan kemampuan anak-anaknya. 'Tidak kalah mengejutkannya, mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anak-¬anaknya.
Oleh karena itu mereka sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik
dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instant dalam mendidik
anak sangat mereka sukai. Misalnya buku tentang "Kiat-Kiat Mengajarkan
bayi Membaca" karangan Glenn Doman, atau "Kiat-Kiat Mengajarkan Bayi
Matematika" karangan Siegfried, "Berikan Anakmu pemikiran Cemerlang "
karangan Therese Engelmann, dan "Kiat-Kiat Mengajarkan Anak Dapat
Membaca Dalam Waktu 6 Hari" karangan Sidney Ledson.

Encounter Group Parents--(ORTU NGERUMPI)
Merupakan kelompok orangtua yang memiliki dan menyenangi pergaulan.
Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun tidak cukup berada atau
terkadang tidak memiliki pekerjaan tetap (luntang lantung). Terkadang
mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam
perkawinannya. Mereka menyukai dan sangat mementingkan nilai-nilai
relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Sebagai
akibatnya kelompok ini sering melakukan ketidakpatutan dalam mendidik anak-¬anak dengan berbagai perilaku "gang ngrumpi" yang terkadang mengabaikan anak.

Kelompok ini banyak membuang-buang waktu dalam kelompoknya sehingga
mengabaikan fungsi mereka sebagai orangtua. Atau pun jika mereka
memiliki aktivitas di kelompokya lebih berorientasi kepada kepentingan
kelompok mereka. Kelompok ini sangat mudah terpengaruh dan latah untuk memilihkan pendidikan bagi anak-anaknya. Menjadikan anak-anak mereka sebagai "Superkids" juga sangat diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan. Namun banyak dari anak-anak mereka biasanya kurang menampilkan minat dan
prestasi yang diharapkan.

Milk and Cookies Parents-(ORTU IDEAL)
Kelompok ini merupakan kelompok orangtua yang memiliki masa kanak-kanak
yang bahagia, yang memiliki kehidupan masa kecil yang sehat dan
manis. Mereka cenderung menjadi orangtua yang hangat dan menyayangi
anak-anaknya dengan tulus. Mereka juga sangat peduli dan mengiringi
tumbuh kembang anak-anak mereka dengan penuh dukungan. Kelompok ini
tidak berpeluang menjadi oraugtua yang melakukan "miseducation " dalam
merawat dan mengasuh anak-anaknva. Mereka memberikan lingkungan yang
nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian, dan tumpahan cinta
kasih yang tulus sebagai orang tua. Mereka memenuhi rumah tangga mereka
dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya.
Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan
yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi
dirinya. Anak-anak mereka pun meninggalkan masa kanak-kanak dengan penuh
kenangan indah yang menyebabkan. Kehangatan hidup berkeluarga
menumbuhkan kekuatan rasa yang sehat pada anak untuk percaya diri dan
antusias dalam kehidupan belajar. Kelompok ini merupakan kelompok
orangtua yang menjalankan tugasnya dengan patut kepada anak-anak mereka.
Mercka begitu yakin bahwa anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya.

Dengan kata lain mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan
menemukan sendiri kekuatan didirinya. Bagi mereka setiap anak adalah
benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga
berbeda dan unik !

KAMU HARUS TAHU BAHWA TIADA SATU PUN YANG LEBIH TINGGI, ATAU LEBIH KUAT,
ATAU LEBIH BAIK, ATAU PUN LEBIH BERHARGA DALAM KEHIDUPAN NANTI DARIPADA
KENANGAN INDAH TERUTAMA KENANGAN MANIS DI MASA KANAK-KANAK.
KAMU MENDENGAR BANYAK HAL TENTANG PENDIDIKAN, NAMUN BEBERAPA HAL YANG INDAH,
KENANGAN BERHARGA YANG TERSIMPAN SEJAK KECIL ADALAH MUNGKIN ITU PENDIDIKAN YANG TERBAIK.
APABILA SESEORANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN INDAH DI MASA KECILNYA, MAKA KELAK SELURUH KEHIDUPANNYA AKAN
TERSELAMATKAN.
BAHKAN APABILA HANYA ADA SATU SAJA KENANGAN INDAH YANG
TERSIMPAN DALAM HATI KITA, MAKA ITULAH KENANGAN YANG AKAN MEMBERIKAN SATU HARI UNTUK KESELAMATAN KITA"
-DESTOYEVSKY' S BROTHERS KARAM0Z0V---

PERSPEKTIF SEKOLAH YANG MENGKARBIT ANAK
Kecenderungan sekolah untuk melakukan pengkarbitan kepada anak didiknya juga terlihat jelas. Hal ini terjadi ketika sekolah berorientasi kepada produk
daripada proses pembelajaran. Sekolah terlihat sebagai sebuah
"Industri" dengan tawaran-tawaran menarik yang mengabaikan kebutuhan
anak. Ada program akselerasi, ada program kelas unggulan. Pekerjaan
rumah yang menumpuk.

Tugas-tugas dalam bentuk hanya lembaran kerja. Kemudian guru-guru yang
sibuk sebagai "Operator kurikulum" dan tidak punya waktu mempersiapkan
materi ajar karena rangkap tugas sebagai administrator sekolah Sebagai
guru kelas yang mengawasi dan mengajar terkadang lebih dari 40 anak,
guru hanya dapat menjadi "pengabar isi buku pelajaran " ketimbang
menjalankan fungsi edukatif dalam menfasilitasi pembelajaran. Di
saat-saat tertentu sekolah akan menggunakan "mesin-mesin dalam menskor"
capaian prestasi yang diperoleh anak setelah diberikan ujian berupa
potongan-potongan mata pelajaran. Anak didik menjadi dimiskinkan dalam
menjalani pendidikan di sekolah. Pikiran mereka diforsir untuk
menghapalkan atau melakukan tugas-tugas yang tidak mereka butuhkan
sebagai anak. Manfaat apa yang mereka peroleh jika guru menyita anak
membuat bagan organisasi sebuah birokrasi? Manfaat apa yang dirasakan
anak jika mereka diminta membuat PR yang menuliskan susunan kabinet yang ada di pemerintahan? Manfaat apa yang dimiliki anak jika ia disuruh
menghapal kalimat-kalimat yang ada di dalam buku pelajaran ? Tumpulnya
rasa dalam mencerna apa yang dipikirkan oleh otak dengan apa yang
direfleksikan dalam sanubari dan perilaku-perilaku keseharian mereka
sebagai anak menjadi semakin senjang. Anak-anak tahu banyak tentang
pengetahuan yang dilatihkan melalui berbagai mata pelajaran yang ada
dalam kurikulum persekolahan, namun mereka bingung mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sepanjang hari mereka bersekolah di sekolah untuk
sekolah--dengan tugas-tugas dan PR yang menumpuk.... Namun sekolah
tidak mengerti bahwa anak sebenarnya butuh bersekolah untuk menyongsong
kehidupannya !

Lihatlah, mereka semua belajar dengan cara yang sama. Membangun 90 %
kognitif dengan 10 % afektif. Paulo Freire mengatakan bahwa sekolah
telah melakukan "pedagogy of the oppressed" terhadap anak-anak didiknya.
Dimana guru mengajar anak diajar, guru mengerti semuanya dan anak tidak
tahu apa-apa, guru berpikir dan anak dipikirkan, guru berbicara dan anak
mendengarkan, guru mendisiplin dan anak didisiplin, guru memilih dan
mendesakkan pilihannya dan anak hanya mengikuti, guru bertindak dan anak
hanya membayangkan bertindak lewat cerita guru, guru memilih isi program
dan anak menjalaninya begitu saja, guru adalah subjek dan anak adalah
objek dari proses pembelajaran (Freire, 1993). Model pembelajaran
banking system ini dikritik habis-habisan sebagai masalah kemanusiaan
terbesar. Belum lagi persaingan antar sekolah. dan persaingan ranking
wilayah....

Mengkompetensi Anak--- merupakan `KETIDAKPATUTAN PENDIDIKAN?"
"Anak adalah anugrah Tuhan... sebagai hadiah kepada semesta alam, tetapi
citra anak dibentuk oleh sentuhan tangan-tangan manusia dewasa yang
bertanggungjawab. .." (Nature versus Nurture).
bagaimana ? Karena ada dua pengertian kompetensi-- -= ` kompetensi yang
datang dari kebutuhan di luar diri anak (direkayasa oleh orang dewasa)
atau kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dari dalam diri anak
sendiri.

Sebagai contoh adalah konsep kompetensi yang dikemukakan oleh John
Watson (psikolog) pada tahun 1920 yang mengatakan bahwa bayi dapat
ditempa menjadi apapun sesuai kehendak kita sebagai komponen sentral
dari konsep kompetensi. Jika bayi-bayi mampu jadi pebelajar, maka mereka
juga dapat dibentuk melalui pembelajaran dini.

Kata-kata Watson yang sangat terkenal adalah sebagai berikut: "Give me a
dozen healthy infants, well formed and my own special world to bring
them up in, and I'll guarantee you to take any one at random and train
him to become any type of specialist I might select--doctor, lawyer,
artist, merchant chief and yes, even beggar and thief regardless of this
talents, penchants.,; , tendencies, vocations, and race of his ancestors
".
Pemikiran Watson membuat banyak orang tua melahirkan "intervensi dini"
setelah mereka melakukan serangkaian tes Inteligensi kepada anak-anaknya. Ada sebuah kasus kontroversi yang terjadi di Institut New
Jersey pada tahun 1976. Dimana guru-guru melakukan serangkaian program
tes untuk mengukur "Kecakapan Dasar Minimum (Minimum Basic Skill)" dalam mata pelajaran membaca dan matematika. Hasil dari
pelaksanaan program ini dilaporkan kolomnis pendidikan Fred Hechinger kepada New York Times sebagai berikut :

`The improvement in those areas were not the result of any magic program
or any singular teaching strategy, they were... simply proof that
accountability is crucial and that, in the past five years, it has paid off in New
Yersey'.

Juga belajar dari biografi tiga orang tokoh legendaris dunia seperti
Eleanor Roosevelt, Albert Einstein dan Thomas Edison, yang diilustrasikan
sebagai anak-anak yang bodoh dan mengalami keterlambatan dalam akademik
ketika mereka bersekolah di SD kelas rendah. Semestinya kita dapat
menyimpulkan bahwa pendidikan dini sangat berbahaya jika dibuatkan
kompetensi-kompeten si perolehan pengetahuan hanya secara kognitif.
Ulah karena hingga hari ini sekolah belum mampu menjawab dan dapat
menampilkan kompetensi emosi sosial anak dalam proses pembelajaran.
Pendidikan anak seutuhnya yang terkait dengan berbagai aspek seperti
emosi, sosial, kognitif pisik, dan moral belum dapat dikemas dalam
pembelajaran di sekolah secara terintegrasi. Sementara pendidikan sejati
adalah pendidikan yang mampu melibatkan berbagai aspek yang dimiliki
anak sebagai kompetensi yang beragam dan unik untuk dibelajarkan. Bukan
anak dibelajarkan untuk di tes dan di skor saja !. Pendidikan sejati
bukanlah paket-paket atau kemasan pembelajaran yang berkeping-keping,
tetapi bagaimana secara spontan anak dapat terus menerus merawat minat
dan keingintahuan untuk belajar. Anak mengenali tumbuh kembang yang
terjadi secara berkelangsungan dalam kehidupannya. Perilaku
keingintahuan -"curiosity" inilah yang banyak tercabut dalam sistem
persekolahan kita.

Akademik Bukanlah Keutuhan Dari Sebuah Pendidikan ! "Empty Sacks will
never stand upright"---George Eliot

Pendidikan anak seutuhnya tentu saja bukan hanya mengasah
kognitif melalui kecakapan akademik semata! Sebuah pendidikan yang utuh akan membangun
secara bersamaan, pikiran, hati, pisik, dan jiwa yang dimiliki anak didiknya.
Membelajarkan secara serempak pikiran, hati. dan pisik anak akan
menumbuhkan semangat belajar sepanjang hidup mereka. Di sinilah
dibutuhkannya peranan guru sebagai pendidik akademik dan pendidik
sanubari "karakter". Dimana mereka mendidik anak menjadi "good and smart
"-terang hati dan pikiran.

Sebuah pendidikan yang baik akan melahirkan "how learn to learn" pada
anak didik mereka. Guru-guru yang bersemangat memberi keyakinan kepada
anak didiknya bahwa mereka akan memperoleh kecakapan berpikir tinggi,
dengan berpikir kritis, dan cakap memecahkan masalah hidup yang mereka
hadapi sebagai bagian dari proses mental. Pengetahuan yang terbina
dengan baik yang melibatkan aspek kognitif dan emosi, akan melahirkan
berbagai kreativitas.

Leonardo da Vinci
seorang pelukis besar telah menghabiskan waktunya ber
jam-jam untuk belajar anatomi tubuh manusia.

Thomas Edison mengatakan bahwa "genius is 1 percent inspiration and 99
percent perspiration ". Semangat belajar ---"encourage' - Tidak dapat
muncul tiba-tiba di diri anak. Perlu proses yang melibatkan
hati---kesukaan dan kecintaan--- belajar. Sementara di sekolah banyak
anak patah hati karena gurunya yang tidak mencintai mereka sebagai anak.

Selanjutnya misi sekolah lainnya yang paling fundamental adalah
mengalirkan "moral litermy" melalui pendidikan karakter. Kita harus ingat bahwa
kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan plus karakter inilah tujuan
sejati sebuah pendidikan (Martin Luther King, Jr). lnilah keharmonisan
dari pendidikan, bagaimana menyeimbangkan fungsi otak kiri dan
kanan, antara kecerdasan hati dan pikiran, antara pengetahuan yang
berguna dengan perbuatan yang baik .....

PENUTUP
Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran--- "good and smart "--- merupakan tugas
kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat,
khususnya antara guru dan orangtua. Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak
dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidakseimbangan yang cenderung memekarkan aspek
kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". Inilah
fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan ! Lihatlah nanti...ketika anak-anak
karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan.

Hidup itu menciut
Dan mengerdil
Bagaikan selokan kecil
Bila dilepas bebas
la merah menggejolak
Bagaikan dahsyatnva samudera luas

"Destiny is not a matter of chance, it is a matter of choice; it is not a thing to be waited for, it is a thing to be achieved."
(William Jennings Bryan )

e-mail dari tante Ami.. tantenya neng Aya..
--------------------------------------------------------------------

Sebelum membaca email ini pun kami tidak pernah berencana menyekolahkan Aya di usia dini biarlah dia sekolah aja d rumah dgn bunda, ayah, oma, ateu sebagai gurunya.

Trus rencananya sih ntr Aya teka setaun aja baru masuk esde. Usia 4th-an mau di masukin sanggar, teserah aya mau pilih yg mana.. menggambar, menari, teater, musik pokonya mah teserah aya, selain sanggar aya mau kita ikutin kelas aikido. kl ini mah rencana sejak aya masih di dalam perut.. hehehe...

Semoga rencana berjalan sesuai harapan.. :)

Tuesday, 17 February 2009

Kalo dia minta mimik..


Aya cuma kadang2 aja bilang nyenyen kl mau nyusu sama Bundanya.. dia lebih sering langsung narik2 si i-sing alias iiih.. singa laut si boneka yg di klaim sebagai bantal menyusui..

Kl diliat bundanya lg nganggur langsung tu si aya narik2 i-sing, kl abis jatuh jg gitu nyari i-sing trus baru nyamperin bunda ato kl kita lg iseng i-sing kita umpetin deh dan si aya langsung heboh muter2 nyari si i-sing. hehehe..

Rencana wiken besok i-sing mau di laundry abiss baunya udh asem2 ga jelas :D nah rada bingung jg ni kl i-sing lg nginep di laundry aya gmn yaaah...?

Sunday, 15 February 2009

MLM..? thx but no thx

sabtu kemarin merupakan ajakan kali ke-2 dr seorg tmen kuliah sy. awal2 ngajakin ktemuan sy emg ga bs krn saat itu cuaca emg tdk mdukung utk keluar rmh. nah tnyata sabtu kmrn dia menghubungi sy lg yg mengatakan kl dia sdg ada d bdg dlm acara ptemuan akbar MLM XXX dan sy dminta ksdiannya utk datang k jl. suralaya.

duh ngedenger MLMnya aja sy udh ilfeel mana mau sy mengorbankan waktu utk datang trus bbrapa jam kmudian tmen sy nelpon ktnya mau k rmh dan sy psilahkan jika niatnya emg utk bsilaturahmi krn sy sudah menegaskan sy ga bminat ikut2an MLM.

dan akhrnya bner tmen sy datang bsama dgn 5 org tmennya dan sy pun udh menduga ga mungkin dia hanya skedar bsilaturahmi..

karena jam sudah menunjukkan jam 19an yg itu brarti sudah masuk jam tidurnya aya jadilah si ayah yg sy tumbalin utk mendengarkan penjelasan2 ttg MLM tsb dan tetep aja TERIMA KASIH KAMI TIDAK BMINAT.

duh mendingan sy buka lapak jualan buku deh dr pada menjual mimpi wlo mungkin emg bs jd kenyataan..

keinget si ayah yg ngedumel2.. damn..damn gw kan laper, dnger tmen kamu ngomong jd tmbh laper. kekeke..